Love is a game that really hard to play. Just like Rubiks.At the very first time you buy this toy, everything seems perfect. Each collors have their own place. But to playing it, you have to spin, twist and displacing those small squares until all the collors are mixing each other. And now the game is about to start. You have to be very patient and persistence to mix and match the collors until it came to the same in every side. It's complicated yet stressing. So does with love. The very first time it came to your life, it seems all perfect, as if life doesnt need another thing to make us happy. You already have it all. But once the twist and spin is coming, everything is become so challenging. Then you will discovered another side of artifical perfection, something that you really adore just from it surfaces. And the rest is depends on you. Are you willing to involve your self into this bumpy-tiring-ride to reach a satisfying result? To get your self of commonness and understanding of two different person with many different personality? Or... You'll just give up like you're playing the rubriks, confused and tired with those disordered patterns? It's all depends on you.
But one thing for sure, love is not a rubiks. They have some commons, but still, It's not.
mampir dan mengintip
Saturday, June 19, 2010
Tuesday, June 15, 2010
These sentimentals...
These are the things that keep linger on my mind. Some feelings that constantly squeezing my emotion from a night back to another nights, behind my tinny blanket in a lowered temperature room. Sometimes rain in the middle of my sleep waking me up and gets me lost deeper than ever, surrounded by fears, confusion, loneliness, and a bit of serenity, questioning about something that i always know that would have no ends. Then i get to a second thought, how long does time and distance i should go through to get me to some place that i really wanted to be there?
Gelisah. Dan ini wajar. Memperhatikan, memikirkan, mengangankan atau mengkhawtirkan banyak hal. And sometimes it's all mixed up one and another, membuat kita harus mencabangkan ujung perasaan kedalam berbagai bentuk emosi.
Well... beberapa minggu kebelakang gue seperti berada dalam kondisi emosi yang labil, but non destruktif ya. Hanya aja, gue ngerasa gampang sedih, gampang terenyuh.. well, basically ini emang sifat gue pada dasarnya sih. cuman sekarang terasa lebih parah. Seperti, ketika gue melewati kerumunan orang, gue seperti bisa menangkap pancaran emosi mereka, dan berusaha untuk menyelami. Dan terkadang sampai terbawa juga.. nggak tau deh. Gue nggak bisa menjabarkan perasaan ini dengan kata-kata dengan gamblang, cuman yang pasti gue ngerasa jadi super sentimental.. terlalu peka dan kadang over reacted. Contoh kasusnya ada lah... nggak perlu dijabarkan secara detil. Cuman yang pasti ada hal yang kayak squeezing my heart, setiap gue teringat akan hal itu.
Hanya gue dan Tuhan yang tau. Ah... Biasa lah manusia, selalu merasakan kegelisahan dengan sebab utama yang sama sekali nggak ada dasarnya. ujug2 aja ngerasa jadi kayak gini...
Biarin deh. Nikmati aja.. tokh gue yakin semua orang pasti pernah ngalamin hal kayak gini, dan bisa jadi ini adalah sebuah rutinitas, baik itu yang tinggal di kota atopun di desa. #apasihhh hahaha....
I'm such a sentimental these past few weeks... Fyuh.
Gelisah. Dan ini wajar. Memperhatikan, memikirkan, mengangankan atau mengkhawtirkan banyak hal. And sometimes it's all mixed up one and another, membuat kita harus mencabangkan ujung perasaan kedalam berbagai bentuk emosi.
Well... beberapa minggu kebelakang gue seperti berada dalam kondisi emosi yang labil, but non destruktif ya. Hanya aja, gue ngerasa gampang sedih, gampang terenyuh.. well, basically ini emang sifat gue pada dasarnya sih. cuman sekarang terasa lebih parah. Seperti, ketika gue melewati kerumunan orang, gue seperti bisa menangkap pancaran emosi mereka, dan berusaha untuk menyelami. Dan terkadang sampai terbawa juga.. nggak tau deh. Gue nggak bisa menjabarkan perasaan ini dengan kata-kata dengan gamblang, cuman yang pasti gue ngerasa jadi super sentimental.. terlalu peka dan kadang over reacted. Contoh kasusnya ada lah... nggak perlu dijabarkan secara detil. Cuman yang pasti ada hal yang kayak squeezing my heart, setiap gue teringat akan hal itu.
Hanya gue dan Tuhan yang tau. Ah... Biasa lah manusia, selalu merasakan kegelisahan dengan sebab utama yang sama sekali nggak ada dasarnya. ujug2 aja ngerasa jadi kayak gini...
Biarin deh. Nikmati aja.. tokh gue yakin semua orang pasti pernah ngalamin hal kayak gini, dan bisa jadi ini adalah sebuah rutinitas, baik itu yang tinggal di kota atopun di desa. #apasihhh hahaha....
I'm such a sentimental these past few weeks... Fyuh.
Monday, May 31, 2010
It's called: LIFE.
Many plans i had arranged. But not all of those things has came into a realization.
Apa kabar Bloggie? I know i abandoned you for a bit while, tapi bukan bermaksud melupakan sih. Life has it special way to make me rethinking all over again when i'm about to start recording my life journey. Intinya, gue selalu aja mentok karena males, ada kerjaan or anything elses.
Nah,
Di bulan Maret kemarin gue sempet berencana untuk hengkang dari Mertilang dan pindah ke kontrakan. Tapi ternyata rencana itu berubah total.
Gue masih di Mertilang, sampai detik ini. Agak membingungkan juga mungkin... Tapi ternyata memang ini yang seharusnya terjadi. Jadi kemaren pas dipikir-pikir lagi, akhirnya gue memutuskan untuk tinggal di Tasik dulu untuk sementara waktu, sambil gue nyelesain novel gue. Pertama, karena gue harus ngurus (nggak ngurus juga sih, cuman berusaha untuk menyelesaikan permasalahan) adek gue. Dan kedua adalah, setidaknya di rumah sendiri gue bisa lebih tenang nulis, dan nggak bakal kerepotan nyari makan.
Jadi gue tinggal di Tasik selama hampir dua bulanan. Dan setelah novel selesai, akhirnya gue balik lagi ke jakarta. Dan ternyata setelah di Mertilang, gue diajak ngobrol sama papi mengenai kerjaan. Papi berusaha untuk menggali apa sebenernya yang terjadi dalam diri gue, dan juga nyari tau kenapa gue bisa sampe hilang kepercayaan dan kemampuan dalam nulis di sinetron. Akhirnya setelah ngobrol panjang lebar, gue sampai pada sebuah kesadaran baru tentang arti dari loyalitas. Bukan gue selama ini nggak loyal, bukan sama sekali! Tapi karena faktor internal ditambah lagi external-lah yang bikin gue angot-angotan di sinetron. Dan setelah novel selesai, gue ngerasa udah nggak ada lagi beban pikiran, untuk sementara waktu. Dan ketika gue ngobrol sama Papi, gue seperti ditampar kenyataan bahwa, betapa papi care banget sama kita. Dia bener-bener mikirin apa yang harus dia lakukan untuk membuat kita bisa menjadi lebih baik. Namun yang lebih membuat gue terenyuh adalah keadaan papi di sinem@rt yang mulai berada di titik rawan. I mean, banyak banget orang yang mempersulit posisinya. Papi bilang, we succsess together, and fall dow together. Disini akhirnya gue sadar, papi membutuhkan orang-orang yang bisa dia jadikan bukan hanya sebagai co-writer, tapi juga sahabat, teman dan seseorang yang bisa dia percayai. Akhirnya kata-kata papi itulah yang bikin gue merasa, ternyata gue memang tidak seharusnya membiarkan papi berada dalam kesulitan dan kehilangan orang-orang yang dia percayain. Then finally i decided to keep walking beside him. I really respecting him. He is the one of persons that who always have some faith on me. Then i will decided to not to take it for granted. There are something more valuable lies behind our professional relationship.
Gue pun pada akhirnya sampai pada sebuah pemahaman hidup yang lebih baru dan lebih berarti. Gue nggak bisa menjabarkannya dalam kata-kata, namun setiap kali gue meresapinya, hati gue merasa hangat. Seperti gue pulang ke rumah...
Maybe someday i will starting my own life with my own foot. But later. Right now papi still needs me to help him working on some projects.
Apa kabar Bloggie? I know i abandoned you for a bit while, tapi bukan bermaksud melupakan sih. Life has it special way to make me rethinking all over again when i'm about to start recording my life journey. Intinya, gue selalu aja mentok karena males, ada kerjaan or anything elses.
Nah,
Di bulan Maret kemarin gue sempet berencana untuk hengkang dari Mertilang dan pindah ke kontrakan. Tapi ternyata rencana itu berubah total.
Gue masih di Mertilang, sampai detik ini. Agak membingungkan juga mungkin... Tapi ternyata memang ini yang seharusnya terjadi. Jadi kemaren pas dipikir-pikir lagi, akhirnya gue memutuskan untuk tinggal di Tasik dulu untuk sementara waktu, sambil gue nyelesain novel gue. Pertama, karena gue harus ngurus (nggak ngurus juga sih, cuman berusaha untuk menyelesaikan permasalahan) adek gue. Dan kedua adalah, setidaknya di rumah sendiri gue bisa lebih tenang nulis, dan nggak bakal kerepotan nyari makan.
Jadi gue tinggal di Tasik selama hampir dua bulanan. Dan setelah novel selesai, akhirnya gue balik lagi ke jakarta. Dan ternyata setelah di Mertilang, gue diajak ngobrol sama papi mengenai kerjaan. Papi berusaha untuk menggali apa sebenernya yang terjadi dalam diri gue, dan juga nyari tau kenapa gue bisa sampe hilang kepercayaan dan kemampuan dalam nulis di sinetron. Akhirnya setelah ngobrol panjang lebar, gue sampai pada sebuah kesadaran baru tentang arti dari loyalitas. Bukan gue selama ini nggak loyal, bukan sama sekali! Tapi karena faktor internal ditambah lagi external-lah yang bikin gue angot-angotan di sinetron. Dan setelah novel selesai, gue ngerasa udah nggak ada lagi beban pikiran, untuk sementara waktu. Dan ketika gue ngobrol sama Papi, gue seperti ditampar kenyataan bahwa, betapa papi care banget sama kita. Dia bener-bener mikirin apa yang harus dia lakukan untuk membuat kita bisa menjadi lebih baik. Namun yang lebih membuat gue terenyuh adalah keadaan papi di sinem@rt yang mulai berada di titik rawan. I mean, banyak banget orang yang mempersulit posisinya. Papi bilang, we succsess together, and fall dow together. Disini akhirnya gue sadar, papi membutuhkan orang-orang yang bisa dia jadikan bukan hanya sebagai co-writer, tapi juga sahabat, teman dan seseorang yang bisa dia percayai. Akhirnya kata-kata papi itulah yang bikin gue merasa, ternyata gue memang tidak seharusnya membiarkan papi berada dalam kesulitan dan kehilangan orang-orang yang dia percayain. Then finally i decided to keep walking beside him. I really respecting him. He is the one of persons that who always have some faith on me. Then i will decided to not to take it for granted. There are something more valuable lies behind our professional relationship.
Gue pun pada akhirnya sampai pada sebuah pemahaman hidup yang lebih baru dan lebih berarti. Gue nggak bisa menjabarkannya dalam kata-kata, namun setiap kali gue meresapinya, hati gue merasa hangat. Seperti gue pulang ke rumah...
Maybe someday i will starting my own life with my own foot. But later. Right now papi still needs me to help him working on some projects.
Thursday, May 20, 2010
Wednesday, April 14, 2010
extreme progress.
Phew! Long time no see! ahaha.... I'm doin just fine, in fact great! because my novel has an extreme progress! dua minggu ini aku berhasil menambah seratus halaman.. dan kayaknya april ini bener2 bakal beres.. Semoga semangat ini terus menyala. Amen. :D Cant wait to get published...
Cerita ternyata mengalami sembilan puluh lima persen perubahan, and i think its a godd thing. Gue bisa dengan bangga bilang ini 'Novel" karena faktor kebetulannya udah gue kurangin abis2an.. sehingga ceritanya jauh dari kata 'sinetronisme'/ hihihi...
well, im happy... karena gue masih memiliki signature gue sebagai penulis....
See you soon in Jakarta, in my launching. :) im so thrilled... soo thrilled! "D
Cerita ternyata mengalami sembilan puluh lima persen perubahan, and i think its a godd thing. Gue bisa dengan bangga bilang ini 'Novel" karena faktor kebetulannya udah gue kurangin abis2an.. sehingga ceritanya jauh dari kata 'sinetronisme'/ hihihi...
well, im happy... karena gue masih memiliki signature gue sebagai penulis....
See you soon in Jakarta, in my launching. :) im so thrilled... soo thrilled! "D
Thursday, March 25, 2010
Happiness will never stands alone.
Meskipun kebahagiaan datang dari dalam diri kita sendiri, dan dari bagaimana kita mengatur hati kita, tapi bagaimanapun kita memerlukan orang lain untuk membantu kita mengeluarkannya. Seseorang yang konsisten, fokus tulus dan tau alasan yang kuat kenapa kita pantas untuk merasa bahagia.
Happiness will never stands alone...
i dont know. i feel lost here, just woke up. i'll rewrite it another time.
Happiness will never stands alone...
i dont know. i feel lost here, just woke up. i'll rewrite it another time.
Monday, March 22, 2010
My life at ground zero.
Still. in an underdog circumstance of my life. This is the third month, March... of my lousy days. Well, i'm still keeping up my life as normal as i can, dan berusaha untuk tidak menjadi orang lain.
Just, wow. Itu kalimat yang bisa menggambarkan bagaimana fase kehidupan gue saat ini. Bukan menyedihkan, cuman challanging. Dan gue terpacu untuk keluar jadi pemenang.
Kadang ketika kita melihat orang yang sedang dalam masalah, kita bisa dengan mudah mengemukakan solusi alternatif dari A sampe Z. Dan kalo misal orang yang kita kasi solusi itu ngga males dan open minded, tentu dia akan mempertimbangkan dan berusaha untuk menjalankan cara dari jalan pemikiran yang masih netral.
Dan sekarang, gue sedang dalam masalah. Thx God.. gue masih bisa berpikir normal, dan selalu positif thinking. Memang ada beberapa kali gue berpikiran negatif dan merasa ... apa ya? Eneg, gerah.. dan sebagainya, oleh permasalah hidup yang merongrong ini. Tapii... setelah gue istirahatkan dan tenangin pikiran, semua ternyata memang ada jalan keluarnya, selama kita mau bersabar dan ngga putus asa. Jalan keluar pasti bakal muncul.
Kemaren gue udah mencari tempat baru. Sebuah kamar kontrakan yang sangat bagus! Gue langsung jatuh cinta ketika membuka pintu dan melihat keadaan didalamnya.
Oh ya, dalam menjadi perantauan, hal yang paling menyenangkan bagi gue adalah ketika kita mencari tempat baru. Hunting kostan gitu.,, Gue selalu excited dan bersemangat biarpun naik motor dan kepanasan. Entah lah,,. hal itu seolah merupakan sebuah pengokohan jati diri sebagai perantau, dan suatu saat akan jadi salah satu bagian yang menyenangkan dalam sejarah kehidupan kita.
Well anyway...
Kamar itu bukan kostan, tapi kontrakan. Ngga ada satupun barang yang bisa gue pake. Kesimpulannya, gue harus beli2 kasur, lemari baju, dan juga meja. Itu yang mungkin sekarang ini menjadi kebutuhan utama. Tapi kenapa ya.. gue sama sekali ngga keberatan? Gue malah merasa tertantang dengan kondisi itu. Bayangin deh ,. ruangan serba kosong, dan gue hanya punya meja buat nulis? It's awesome! kayak mengikuti sebuah reality show gitu... hahaha. Lebay.
Yah, intinya gue udah mutusin untuk tinggal disitu, dengan segala kesederhanaan, sambil merampungkan novel. Kita liat perlu waktu berapa lama gue memenuhi kamar kontrakan gue dengan barang-barang.
From now on, im restarting my life from zero-all over again. Bener-bener dimulai dari nol.. seperti pertama kali gue dateng ke jakarta. Lupain sejenak gaya hidup yang nyaman, dengan kamar ber AC, fasilitas super nyaman... It's time to move on to the next level of my life.
We'll see... :D
Just, wow. Itu kalimat yang bisa menggambarkan bagaimana fase kehidupan gue saat ini. Bukan menyedihkan, cuman challanging. Dan gue terpacu untuk keluar jadi pemenang.
Kadang ketika kita melihat orang yang sedang dalam masalah, kita bisa dengan mudah mengemukakan solusi alternatif dari A sampe Z. Dan kalo misal orang yang kita kasi solusi itu ngga males dan open minded, tentu dia akan mempertimbangkan dan berusaha untuk menjalankan cara dari jalan pemikiran yang masih netral.
Dan sekarang, gue sedang dalam masalah. Thx God.. gue masih bisa berpikir normal, dan selalu positif thinking. Memang ada beberapa kali gue berpikiran negatif dan merasa ... apa ya? Eneg, gerah.. dan sebagainya, oleh permasalah hidup yang merongrong ini. Tapii... setelah gue istirahatkan dan tenangin pikiran, semua ternyata memang ada jalan keluarnya, selama kita mau bersabar dan ngga putus asa. Jalan keluar pasti bakal muncul.
Kemaren gue udah mencari tempat baru. Sebuah kamar kontrakan yang sangat bagus! Gue langsung jatuh cinta ketika membuka pintu dan melihat keadaan didalamnya.
Oh ya, dalam menjadi perantauan, hal yang paling menyenangkan bagi gue adalah ketika kita mencari tempat baru. Hunting kostan gitu.,, Gue selalu excited dan bersemangat biarpun naik motor dan kepanasan. Entah lah,,. hal itu seolah merupakan sebuah pengokohan jati diri sebagai perantau, dan suatu saat akan jadi salah satu bagian yang menyenangkan dalam sejarah kehidupan kita.
Well anyway...
Kamar itu bukan kostan, tapi kontrakan. Ngga ada satupun barang yang bisa gue pake. Kesimpulannya, gue harus beli2 kasur, lemari baju, dan juga meja. Itu yang mungkin sekarang ini menjadi kebutuhan utama. Tapi kenapa ya.. gue sama sekali ngga keberatan? Gue malah merasa tertantang dengan kondisi itu. Bayangin deh ,. ruangan serba kosong, dan gue hanya punya meja buat nulis? It's awesome! kayak mengikuti sebuah reality show gitu... hahaha. Lebay.
Yah, intinya gue udah mutusin untuk tinggal disitu, dengan segala kesederhanaan, sambil merampungkan novel. Kita liat perlu waktu berapa lama gue memenuhi kamar kontrakan gue dengan barang-barang.
From now on, im restarting my life from zero-all over again. Bener-bener dimulai dari nol.. seperti pertama kali gue dateng ke jakarta. Lupain sejenak gaya hidup yang nyaman, dengan kamar ber AC, fasilitas super nyaman... It's time to move on to the next level of my life.
We'll see... :D
Subscribe to:
Posts (Atom)

