mampir dan mengintip

Tuesday, December 18, 2007

new organism in my room.

aku sekarang punya temans di kamarku. kami semen leven dan hidup rukun berdampingan. temans ku itu ada tiga ras.. ras neon, ras tiger dan ras guppy. mereka senang sekali berkeliaran kesana kemari. tapi teman nya mati satu.. aku nggak pernah bisa ngasih mereka nama, karena mereka terlalu banyaks, dan bergerombol. aku senang karena setiap pulang ke kostan ada yang dengan ceria menyambut kelelahanku. meski aku tidur, selalu diawasin, hehe....
merekia wong nggak pernah tidur! yah... namanya juga ikan, hehe... i love my aquarium!!

tar potona di uplotin deh.. kwkwkwkw

Kado Untuk Vito

aku sudah membuatkan kado yang cukup bagus untuknya. well.. aku harap dia suka. memang sih harganya cukup lumayan, tapi tidak sebanding sebagai ungkapan terimakasih atas segala pelajaran berharga yang telah ia berikan untukku..

thank you for the lessons you gave to me.
Gadis itu, duduk menerawang dengan mata yang sayu, lekat ke aspal yang becek sisa hujan semalam. entah apa yang ada difikirannya saat itu, namun yang pasti bukan tentang model baju terbaru atau mau nonton dengan siapa nanti malam, atau mau makan pakai apa...sering kali kulihat gadis itu ketika aku akan naik metromini yang selalu membawaku ke blok-m untuk berangkat ke kantor.
mukanya ketika kulihat atdi pagi begitu kusam.. namun sesekali anak-anak jalanan yang bisa mangkal di prapatan dimana bus selalu berhenti untuk menunggui penumpang, menggodanya entah dengan kata-kata apa, aku tidak dapat mendengarnya karena telingaku tertutupi earphone.
pernah suatu ketika aku melihat dia dipukuli kepalanya oleh ibunya. ibunya tengah makan.. dan entah apa yang membuat si ibu itu murka sehingga memukuli kepalanya dengan membabi buta, mulutnya berbicara dengan makanan berhamburan di bibirnya. si gadis mengaduh kesakitan dan kepalanya meneleng ke kiri, sambil takut-takut ia melirik ke arah ibunya, tapi belum sampai tiga detik tempelengan sudah sampai ke pipinya.
gadis itu memegang pipinya.. dan airmata perlahan mulai menganak sungai.
entah apa yang akan terjadi beberapa tahun mendatang, dimana ia adri sekarang sudah mulai dijejali kesumpekan dan kepenatan, tidak ada ruang untuk berfantasi mengenai indahnya masa remaja, tidak ada kesempatan untuk menikmati indahnya cinta pertama, tanpa ada kesempatan untuk mengambil jatah untuk menjadi manusia yang lengkap dalam menjalani siklusnya. there is a part missing on her..

Pak Alwi Tak sakti lagi.

sebuah kata yang bisa aku ucapkan ketika menyuapkan gado-gado itu: ' Amazing'. ketika pertama kali aku mencicipi gado-gado itu, seolah seluruh rasa di dunia tidak ada yang menandinginya. legit, kental, aroma kacang mete berbaur indah dengan rasanya, belum lagi letupan kencur yang hangat dilidah, disertai dengan sensasi rasa tahu dan tempe yang dipotong kecil-kecil mewarnai semaraknya campur aduk sayuran itu. its about one year a go. aku masihsa ja mempromosikan ke
orang-orang, bahwa ada penjual gado-gado sakti bernama Pak Alwi di belakang Panin Bank. Namun.. kini pak alwi sudah tidaksakti lagi.. gado-gado nya kini serasa basi, bahkan tidak mampu menandingi milik Boplo. warnanya pucat pasi, dengan aroma mete yang sudah tika dapat di kecap lagi. perut buncitnya sudah sedikit kempis, tangannya tidak sekekekar dahulu.
waktu telah memamah keahliannya di sunting oleh rentanya usia senja. sang adik yang setia menemani, kini sudah tidak disampingnya lagi membantu meracik bumbu. mungkin oleh sebab itu gado-gado nya tidak selezat dahulu..

Sunday, December 16, 2007

:: Bolu Pandan ::

dibangunkan oleh lengkingan kambing-kambing yang siap tengah di potong untuk Qurban minggu depan, aku terjaga dari tidur ku yang memang sudah saatnya untuk memulai aktifitas siang hari, malam hari sudah terlewat beberapa jam yang lalu. Aku tidur mengambil jatah kegiatan siang hariku. well.. karena aku tidak mempunyai plan kmana2 pagi ini. Aku mencium aroma bolu pandan pagi ini, entah dari mana, padahal tidak ada yang tengahmemangganya. begitu ku membuka mata, saraf sensorik ku mendeteksi aroma bolu hijau yang teramat lezat itu, dan seketika membawa fikiranku pada sensasi ketika membaca supernova dan tengah berada di bab Diva yang tengah menjamu ferre di kebun kecilnya. tahu kah kamu, membaca buku itu sama nikmatnya dengan menikmati bolu pandan hangat pada suatu sore hari ditemani satu cangkir teh camomile.
ngomong-ngomong lengkingan kambing-kambing itu kurasakan tidak seperti biasanya. kali ini lebih tipis, lebih mendengus, parau dan seperti menyimpan kegalauan. entahlah, apa itu hanya perasaan ku saja? apapaun itu yang pasti mengingatkan ku kembali pada memori bertahun-tahun yang lalu di tasikmalaya, ketika akan ada pemotongan hewan Qurban, aku selalu menyaksikan bagaimana hewan itu di giring ke gawang penjagalan, lalu kaki-kaklinya mulai dililiti tali, lantas ditarik menjadi satu ikatakn yang rapat antara kaki depan dengan kaki depan, dan kaki belakang dengan kaki belakang. 'Brukkk'!
sang hewan Queban pun terbaring ke tanah dengan berdebum, tempo hari yang akiu lihat adalah penyembelihan Sapi.
Al : ' Karunya eung.'
Teman1: ' Tempo panon na, ceurik! '
Teman 2:' Naha nya henteu kokosehan atawa ngamuk? sigana teh pasrah meureun nya?
teman 1 : ' Enya pan geus pasrah, manehna geus apaleun rek dikurbankeun.

- Kasiihan ya?
-lihat matanya, menangis
-kenapa kok tidak berontak? sepertinya pasrah ya?
-iya kan sudah pasrah, dia udah tahu mau di qorbankan.

si penjaga mulai mendekat dengan kilatan mata pisau di tangan kanan nya. akinya memsang kuda-kuda. si Sapi mengatupkan matanya sekali, kulihat bulumatanya basah. hatiku miris.. lalu si jagal mencengkram kulit leher si sapi, lantas menempelkan pisau tajamnya.
'kresss...... Nguuuuuuuhhhh....'
Aku tidak menamatkan menyaksikan pembantaian yang menjadi tontonan itu. sapi itu yang di sembelih, kenapa aku yang sakit?

Saturday, December 15, 2007

::Terimakasih::

aku berjalan, aku terjatuh. Berdarah, lantas bangkit lagi. kulitku tertusuk dan tergores oleh duri dan onak. kini aku sudah mampu berfikir, alangkah tidak pantas air mata datang untuk meratapi perjuangan hidup, dan keringat dikucurkan hanya untuk mengeluh. mari kita sukuri akan nikmatNya, dari pahit hingga yang teramat manis.
terimakasih untuk dusta, terimakasih untuk benci, terimakasi untuk cinta, terimakasi untuk hina dan cela, terimakasih rasa sakit, terimakasih kemalangan, terimakaih untuk semuanya. karenanya lah aku bisa sedikit mengerti, apa itu hidup dalam hakiki.
aku tidak akan terlepas dari segala sifat kefanaan manusia, namun dalam setiap doaku, selalu kupanjatkan agar Ia tidak melepaskan ku sedetikpun dari mataNya.

rasa itu adalah muak.

kulihat orang-orang itu. berjejera rapi dengan sederet senyuman yang amat manis. pakaian nya santun dengan gestur badan penuh dengan gaya ketimuran. dia sedang dihadapan para pemangku tahta tinggi. dibelakangnya tergenggam bunga mawar, namun hitam.. ada duri dalam tangkainya, serbuk tuba menari diselendangi banyu. kusumpahi dalam hati, gtidak akan mayat mereka membusuk oleh cacing, karena begitu kuatnya kepalsuan yang mereka jadikan sebagai topeng. aku juga begitu.. begitu apa? begitu muak.